Kasus Baru Remaja Mabuk Pakai Deodoran Spray, Lalu Ini yang Terjadi - Prediksi Bola Terpercaya | Prediksi Togel Terpercaya | Berita Bola Terhangat

News

Rabu, 21 November 2018

Kasus Baru Remaja Mabuk Pakai Deodoran Spray, Lalu Ini yang Terjadi
























Seorang remaja berusia 19 tahun meninggal setelah menghirub deodoran semprot untuk membuatnya mabuk, demikian menurut laporan kasus kesehatan baru. Dokter yang merawat pemuda tersebut di Belanda menggunakan insiden itu untuk menyoroti konsekuensi fatal akibat menghirup fatal akibat menghirup bahan kimia.

"Kasus semacam itu sangat langka," menurut Dr. Kelvin Harvey Kramp dari unit perawatan. intensif Rumah Sakit Maasstad di Rotterdam.


Kramp menjelaskan bahwa kematian akibat menghirup deodoran sejatinya tak lazim di kalangan masyarakat umum. "Konsekuensi seperti itu belum diketahui pasti dan bisa menyebabkan orang melanjutkan perilaku berbahaya ini," imbuhnya.

Pasien, yang memiliki riwayat gejala psikotik, telahh dirawat di pusat rehabilitasi atas penyalahgunaan ganja dan ketamin serta tengah mengonsumsi obat antipsikotik.

Pasien yang tak disebutkan identitasnya itu ternyata pada bulan Juli lalu melakukan aksinya. Ia menempatkan handuk diatas kepala dan menghirup deodoran semprot untuk mendapatkan efek 'high' alias mabuk yang dirasakan para pecandu narkoba.

Dia kemudian menjadi hiperaktif dan melompat-lompat, namun aliran darahnya terhenti tiba-tiba, menyebabkan dia terkena serangan jantung dan tumbang.

Korban sempat dirawat di rumah sakit dan mengalami kondisi koma medis.

"Pasien tak memiliki fungsi fungsi otak yang cukup untuk mempertahankan kehidupan," kata Ktamp.

Sembilah hari setelah dia dirawat, dokter menyatakan pemuda yang menghirup deodoran semprot itu meninggal dunia.



3 Kemungkinan Penyebab

Ada tiga teori diduga menjadi penyebab henti jantung yang dialami korban penghirup deodoran semprot.

 "Inhalan (suatu kelompok senyawa yang mudah menguap yang menghasilkan efek toksik mirip alkohol)  bisa membuat jantung si pasien menjadi peka lalu memicu stres, seperti tertangkap tangan oleh orangtua, menyebabkan hentinya jantung," kata Kramp.

"Inhalan juga menurunkan kekuatan kontraksi otot jantung. Kemungkinan lain adalah bahwa inalansia (uap yang mudah menguap dan dihirup) dapat menyebabkan spasme arteri koroner."

Spasme arteri koroner adalah salah satu penyebab lain serangan jantung . Otot arteri koroner dapat mengalami penyempitan karena spasme.Bila spasme yang terjadi parah, aliran darah pun tersumbat sehingga otot jantung akan kekurangan oksigen

Selain itu, hiperaktivitas pasien bisa berarti dia mengalami "halusinasi menakutkan kata Kramp. Ia juga menambahkan bahwa jika itu yang terjadi, maka teori pertana ajab berlaku.

Laporan itu menunjukkan bahwa pemuda tersebut menggunakan pelarut organik yang mudah menguap tertentu sebagai zat memabukkan melalui penghirupan.

Menurut Kramp, penggunaan pelarut organik misalnya lem bukan fenomena baru, terutama ditemukan pada kaum muda yang rentan.

Studi menunjukkan, kelompok yang paling terpengaruh oleh penyalahgunaan demikian adalah remaja berusia 15 hingga 19 tahun. Orang-orang di pusat rehabilitasi atau penjara lebih cenderung menyalahgunakan produk rumah tangga, tambah laporan itu.

Itu berarti mungkin ada risiko lebih besar kematian jantung di lingkungan demikian.

"Dalam lingkungan yang seperti itu, orang-orang tersebut memiliki lebih sedikit akses ke zat-zat lain, dan produk-produk rumah tangga yang mudah tersedia," jelas Direktur Farmasi di badan amal Inggris, Addaction, Roz Gittins (yang tidak terlibat dalam laporan itu).

Kramp juga mengatakan, zat kimia beracun Butana, yang sering digunakan dalam produk rumah tangga yang bisa didapat dengan mudah, memiliki efek yang mirip dengan alkohol.

"Maksud dari pelaku adalah untuk mendapatkan perasaan euforia dan disinhibition (merupakan ketidak mampuan seseorang dalam mengendalikan perilaku, pikiran, dan perasaan di duni maya)."

"Efek kesehatan lain dari inhalansia termasuk kerusakan hati dan ginjal, gangguan pendengaran, perkembangan perilaku yang tertunda dan kerusakan otak. Bahan kimia seperti butana memiliki efek yang sangat cepat dan singkat, yang dapat membuat orang ingin terus menggunakannya," papar Gittins.

Penulis laporan berharap peningkatan kesadaran akan bahaya zat-zat tersebut bisa membantu mengurangi kematian terkait pernafasan lebih lanjut , melalui pendidikan di sekolah sekitar konsekuensi fatal penyalahgunaan pelarut. 

"Untuk menghentikan penyalahgunaan tersebut, kami hanya dapat mencoba meningkatkan kesadaran tentang kemungkinan konsekuensi dramatis dari penyalahgunaan inhalan dikalangan anak muda, orangtuam, tenaga medis," tegas Kramp.

Sejauh ini ada 125 kematian akbiat penyalahgunaan inhalasi setiap tahun di Amerika Serikat, menurut laporan itu,

Stephen Ream, Direktur Badan Amal yang berbasis di Inggris, Re-solv, mengatakan bahwa pada tahun 2016," ada 64 kematian yang terkait dengan produk tersebut," dengan penggunaan gas butana setidaknya sepertiga dari korban.

"Penyalahgunaan zat pelarut juga menjadi masalah di wilayah utara Inggris, dengan tingat yang lebih tinggi di Skotlandia dan Timur Laut Inggris," jelas Ream.

Menurut Organisasi Penasihat Obat Inggris, Talk to Frank, lebih banyak anak bertusia 10 hingga 15 tahun terbunuh karena menyalahgunakan lem, gas dan aerosol dari pada obat-obatan terlarang antara tahun 2000 dan 2008.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar